Category: Ilmu datu sanggul

Ilmu datu sanggul

30.10.2020 By JoJokinos

Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Baseri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

Profile Secara Umum. Dalam beberapa kali pertemuan tersebut, keduanya kemudian sharing dan diskusi masalah ilmu ketuhanan.

Hasil dari diskusi mereka tersebut kemudian ditulis dalam sebuah kitab yang oleh orang Banjar dinamakan kitab Barencong. Siapakah Datu Sanggul? Berdasarkan tutur lisan yang berkembang dalam masyarakat dan beberapa catatan dari beberapa orang penulis buku, sepengetahuan penulis setidaknya ada tiga versi yang menjelaskan tentang sosok dan kiprah Datu Sanggul. Versi Pertama menyatakan bahwa Datu Sanggul adalah putra asli Banjar.

Kehadirannya menjadi penting dan lebih dikenal sejarah lewat lisan dan berita Syekh Muhammad. Arsyad yang bertemu dengannya ketika beliau masih belajar di Mekkah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Datu Sanggul pernah berbagi ilmu dengan Syekh Muhammad Arsyad dan melahirkan satu kitab yang disebut dengan kitab Barencong yang isinya menguraikan tentang ilmu tasawuf atau rahasia-rahasia ketuhanan dan sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan serta diragukan keberadaannya, karena tidak pernah ditemukan naskahnya.

Namun walaupun demikian pengertian dari kitab Barencong itu sendiri dapat kita tinjau dan pahami dari dua sisi, yakni pemahaman secara tersurat dan secara tersirat. Secara tersurat boleh jadi kitab tersebut memang ada, berbentuk seperti umumnya sebuah buku dan ditulis bersama sebagai suatu konsensus keilmuan oleh Syekh Muhammad Arsyad dan Datu Sanggul hal ini menggambarkan adanya pengakuan dari Syekh Muhammad Arsyad akan ketinggian ilmu tasawuf Datu Sanggul.

Kemudian secara tersirat dapat pula dipahami bahwa maksud kitab Barencong tersebut adalah simbol dari pemahaman ketuhanan Syekh Muhammad Arsyad yang mendasarkan tasawufnya dari langit turun ke bumi dan simbol pemahamanan tasawuf Datu Sanggul dari bumi naik ke langit.

Maksudnya kalau Syekh Muhammad Arsyad belajar ilmu ketuhanan dan tasawuf berdasarkan ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan kepada Nabi Saw dan tergambar dalam Shirah hidup beliau, sahabat dan orang-orang sholeh sedangkan Datu Sanggul mengenal hakikat Tuhan berdasarkan apa-apa yang telah diciptakan-Nya alamsehingga dari pemahaman terhadap alam itulah menyampaikannya kepada kebenaran sejati yakni Allah, karena memang pada alam dan bahkan pada diri manusia terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi mereka yang mentafakurinya.

Kitab Barencong

Dengan kata lain ilmu tasawuf Datu Sanggul adalah ilmu laduni yang telah dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Salah satu karya spektakulernya yang masih dikenang hingga kini adalah membuat tatalan atau tatakan kayu menjadi soko guru masjid desa Tatakan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga ketika membuat soko guru dari tatalan kayu untuk masjid Demak. Versi ketiga, berdasarkan buku yang disusun oleh H. Marwan menjelaskan bahwa nama asli Datu Sanggul adalah Syekh Abdus Samad, ia berasal dari Aceh versi lain menyebutkan dari Hadramaut dan dari Palembang.

Datu Sanggul atau Syekh Abdus Samad satu-satunya murid yang dipercaya oleh Datu Suban untuk menerima kitab yang terkenal dengan sebutan kitab Barincong, beliau juga dianggap memiliki ilmu kewalian, sehingga teristimewa di antara ketigabelas orang murid Datu Suban.

Banyak cerita yang lisan yang beredar di masyarakat berkenaan dengan keramat Datu Sanggul. Diceritakan bahwa Kampung Tatakan pernah dilanda Banjir, akibat hujan lebat, sehingga jalan-jalan di Kampung tergenang oleh air.

Pas ketika hari Jumat, biasanya orang kalau mengambil air wudhu di sungai yang mengalir, dengan duduk di batang. Tetapi ketika Datu Sanggul datang dan berwudhu dalam penglihatan orang-orang di masjid beliau menceburkan diri ke sungai, tetapi anehnya ketika naik, badan beliau tidak basah. Jamaah Masjid juga pernah menyaksikan ketika shalat, dalam beberapa menit tubuh Datu Sanggul melayang di udara dan hilang dari pandangan orang banyak.

Riwayat juga ada menceritakan tentang berpindah-pindahnya kuburan dari Datu Sanggul dari beberapa tempat, sampai yang terakhir di Tatakan. Dalam artian bukan maksud untuk mengagung-agungkan apalagi mengkultuskan mereka, tetapi untuk mengikuti jejak hidup, perjuangan dan akhlak postif sesuai prinsip ajaran agama yang telah ditorehkannya.

Diposting oleh Unknown di Tambahkan komentar. Muat yang lain Langganan: Posting Komentar Atom.Posting Komentar. Laman beranda Hadits. Lahir 15 shafar H. Bertepatan dengan 19 maret M. Dari banjarmasin Maulana Syekh Muhammad Arsyad adalah seorang ulama yg sangat berpengaruh dan mempunyai peranan penting dalam sejarah pengembangan syiar agama Islam, khususnya di bumi kalimantan. Seorang yg sangat gigih mempertahankan dan mengembangkan faham Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan faham Asy'ariah untuk ilmu Tauhid, dan Mazhab Imam Syafi'i untuk bidang ilmu Fiqih.

Beliau juga seorang Mufti penasehat agama pada kesultanan banjar, dan juga seorang penulis yg produktif. Maulana Syekh Muhammad Arsyad ketika kecilnya bernama Muhammd Ja'far, adalah anak tertua dari lima bersaudara hasil perkawinan Abdullah dengan Siti Aminah. Adapun anak Abdullah dengan Siti Aminah adalah: 1. Haji muhammad Arsyad 2. Haji Zainak Abidin 3. Abidin 4. Diang Panangah 5. Bakat tulis-menulis juga sudah mulai nampak terlihat padanya di kala itu. Karena itu beliau dipelihara dan dikumpulkan oleh Sultan bersama dengan anak-anak dan cucu-cucu keluarga kerajaan.

Karena bakat dan kepandaian beliau dalam mempelajari ilmu agama, maka menjelang usia 30tahun Muhammad Arsyad diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah, untuk memperdalam ilmu agama dengan biaya sultan kerajaankarena sultan berharap dengan ilmu yg di perolehnya di Tanah Suci itu kelak akan dapat membimbing dan mengajarkannya kepada rakyat Banjar dan sekitarnya dalam hal keagamaan Islam. Di tanah suci Makkah dan Madinah beliau belajar kepada para ulama yg terkenal, antara lain: 1.

Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi. Beliau sempat berdialog tentang masalah agama dan hukum-hukum Islam dengan Syaikhul Islam Haramain ini yg kala itu baru datang dari Mesir, beliau ini yaitu Syekh Muhammad Sulaiman Al-Kurdi adalah pengarang kitab Hawasyil Madaniyyah.

Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashri. Syekh Shiddiq bin Umar Khan. Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi. Syekh ' Abid As-Sindi.

ilmu datu sanggul

Syekh Abdul Wahab Ath-Thanthawi. Syekh Maulana Sayyid Abdullah Mirghani. Syekh Muhammd bin Ahmad Al-Jawahir. Konon di Mekkah itu pula beliau sempat berkenalan dan sekaligus berguru pada datu sanggul Abdu Samadyg pada akhrnya beliau diberi kitab yg terkenal dengan sebutan Kitab Bare Cong oleh Datu Sanggul.

Diposting oleh kanakan rantau jam Tidak ada komentar:. Langganan: Posting Komentar Atom.Datu Sanggul, begitu masyarakat lebih mengenalnya. Seorang tokoh panutan di zamannya, sekitar abad ke Masehi, satu zaman dengan Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ketulusan hatinya dalam melaksanakan ibadah, dan ketaqwaannya dalam menegakkan kalimat-kalimat Allah, serta keramat yang diberikan Allah kepadanya, membuat ia terkenal sampai ke pelosok negeri.

Satu hal yang amat tergambar dalam sosok Datu Sanggul, adalah ketekunannya dalam menuntut dan menyempurnakan ilmu. Yaitu berguru dengan Datu Suban. Di Desa Tatakan pula beliau kemudian dimakamkan yang sampai sekarang makamnya terus diziarahi masyarakat. Dalam salah satu riwayat diceritakan, Datu Sanggul disebutkan bernama asli Syekh Muhammad Abdussamad. Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa nama beliau adalah Ahmad Sirajul Huda.

Beliau berasal dari Palembang, kemudian melanglang buana ke berbagai penjuru untuk menuntut ilmu. Mengapa digelari Datu Sanggul?

Ada juga yang mengatakan beliau sering menyanggul atau menghadang pasukan tentara Belanda di perbatasan Kampung Muning, sehingga tentara Belanda pun kocar-kacir dibuatnya. Versi lainnya lagi menyebutkan, gelar Datu Sanggul itu karena kegemaran beliau menyanggul menunggu binatang buruan.

Ada juga yang mengatakan rambut beliau yang panjang dan selalu disanggul digelung. Wallahu a'alam.

ilmu datu sanggul

Datu Sanggul sangat terkenal pula dengan syair-syairnya yang begitu puitis dan penuh makna. Syair tersebut berbahasa Banjar yang sarat dengan pelajaran tasawuf. Diantara petikan syair tersebut berbunyi:. Syair itu dilantunkan Datu Sanggul saat muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya tanpa basah sama sekali terkecuali pada anggota wudhu.

Beliau mempunyai banyak kelebihan. Selalu shalat Jum'at di Makkah, dan menjadi murid Nabi Khidhir.

Kalau tidak melaksanakan kewajiban tersebut, akan didenda. Dalam kondisi itu, setelah didesak oleh istri beliau karena tidak ada lagi barang yang bisa dipakai untuk membayar denda, Datu Sanggul akhirnya berjanji untuk melaksanakan shalat Jum'at di masjid kampungnya. Kala itu, sungai di kampungnya sedang meluap dan hampir terjadi banjir lantaran hujan yang sangat lebat pada malam harinya. Di saat para jamaah sedang berwudhu di pinggir sungai, tiba-tiba Datu Sanggul datang dan langsung terjun ke sungai yang sedang meluap tersebut.

Beliau bercebur lengkap dengan pakaiannya. Orang-orang berteriak dan menjadi gempar. Dan tiba-tiba lagi, di tengah kegemparan masyarakat itu, Datu Sanggul muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya, lalu langsung memasuki masjid. Lebih mengherankan, pakaian beliau tidak basah sama sekali, kecuali anggota wudhunya. Di sana padang si tamu-tamu.

Rindu dendam tengadah bulan. Bersamaan ucapan Allahu Akbar itu, tubuh beliau mengawang-awang hingga selesai orang mengerjakan shalat Jum'at. Melihat keadaan Datu Sanggul yang demikian, orang-orang yang berada di masjid semakin keheranan.Posting Komentar. Senin, 19 Desember Datuk sanggul dan Kitab Berencong. Dalam beberapa kali pertemuan tersebut, keduanya kemudian sharing dan diskusi masalah ilmu ketuhanan. Hasil dari diskusi mereka tersebut kemudian ditulis dalam sebuah kitab yang oleh orang Banjar dinamakan kitab Barencong.

Siapakah Datu Sanggul? Berdasarkan tutur lisan yang berkembang dalam masyarakat dan beberapa catatan dari beberapa orang penulis buku, sepengetahuan penulis setidaknya ada tiga versi yang menjelaskan tentang sosok dan kiprah Datu Sanggul. Versi Pertama menyatakan bahwa Datu Sanggul adalah putra asli Banjar. Kehadirannya menjadi penting dan lebih dikenal sejarah lewat lisan dan berita Syekh Muhammad.

Arsyad yang bertemu dengannya ketika beliau masih belajar di Mekkah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Datu Sanggul pernah berbagi ilmu dengan Syekh Muhammad Arsyad dan melahirkan satu kitab yang disebut dengan kitab Barencong yang isinya menguraikan tentang ilmu tasawuf atau rahasia-rahasia ketuhanan dan sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan serta diragukan keberadaannya, karena tidak pernah ditemukan naskahnya.

Namun walaupun demikian pengertian dari kitab Barencong itu sendiri dapat kita tinjau dan pahami dari dua sisi, yakni pemahaman secara tersurat dan secara tersirat. Secara tersurat boleh jadi kitab tersebut memang ada, berbentuk seperti umumnya sebuah buku dan ditulis bersama sebagai suatu konsensus keilmuan oleh Syekh Muhammad Arsyad dan Datu Sanggul hal ini menggambarkan adanya pengakuan dari Syekh Muhammad Arsyad akan ketinggian ilmu tasawuf Datu Sanggul.

Kemudian secara tersirat dapat pula dipahami bahwa maksud kitab Barencong tersebut adalah simbol dari pemahaman ketuhanan Syekh Muhammad Arsyad yang mendasarkan tasawufnya dari langit turun ke bumi dan simbol pemahamanan tasawuf Datu Sanggul dari bumi naik ke langit. Maksudnya kalau Syekh Muhammad Arsyad belajar ilmu ketuhanan dan tasawuf berdasarkan ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan kepada Nabi Saw dan tergambar dalam Shirah hidup beliau, sahabat dan orang-orang sholeh sedangkan Datu Sanggul mengenal hakikat Tuhan berdasarkan apa-apa yang telah diciptakan-Nya alamsehingga dari pemahaman terhadap alam itulah menyampaikannya kepada kebenaran sejati yakni Allah, karena memang pada alam dan bahkan pada diri manusia terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi mereka yang mentafakurinya.

Dengan kata lain ilmu tasawuf Datu Sanggul adalah ilmu laduni yang telah dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Salah satu karya spektakulernya yang masih dikenang hingga kini adalah membuat tatalan atau tatakan kayu menjadi soko guru masjid desa Tatakan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga ketika membuat soko guru dari tatalan kayu untuk masjid Demak.

Versi ketiga, berdasarkan buku yang disusun oleh H.

ilmu datu sanggul

Marwan menjelaskan bahwa nama asli Datu Sanggul adalah Syekh Abdus Samad, ia berasal dari Aceh versi lain menyebutkan dari Hadramaut dan dari Palembang. Datu Sanggul atau Syekh Abdus Samad satu-satunya murid yang dipercaya oleh Datu Suban untuk menerima kitab yang terkenal dengan sebutan kitab Barincong, beliau juga dianggap memiliki ilmu kewalian, sehingga teristimewa di antara ketigabelas orang murid Datu Suban. Banyak cerita yang lisan yang beredar di masyarakat berkenaan dengan keramat Datu Sanggul.

ilmu datu sanggul

Diceritakan bahwa Kampung Tatakan pernah dilanda Banjir, akibat hujan lebat, sehingga jalan-jalan di Kampung tergenang oleh air.

Pas ketika hari Jumat, biasanya orang kalau mengambil air wudhu di sungai yang mengalir, dengan duduk di batang. Tetapi ketika Datu Sanggul datang dan berwudhu dalam penglihatan orang-orang di masjid beliau menceburkan diri ke sungai, tetapi anehnya ketika naik, badan beliau tidak basah. Jamaah Masjid juga pernah menyaksikan ketika shalat, dalam beberapa menit tubuh Datu Sanggul melayang di udara dan hilang dari pandangan orang banyak. Riwayat juga ada menceritakan tentang berpindah-pindahnya kuburan dari Datu Sanggul dari beberapa tempat, sampai yang terakhir di Tatakan.Dengan minimal Deposit hanya Rp Rasulullah saja tidak bisa peegi sekejap mata.

Minggu, 02 Oktober Hikayat Datu Sanggul. Orang banyak mungkin tidak begitu mengenalnya bahkan mungkin jadi tidak mengenal sama sekali,dan mungkin generasi sekarang tidak mengetahui kehidupan Datu Sanggul ini,seorang tokoh panutan dijamannya,ketulusan hatinya dalam melaksanakan ibadah dan ketaqwaannya dalam menegakkan kalimat Allah serta kedigjayaannya membuat terkenal sampai kepelosok negri,ketekunan beliau dalam menuntut ilmu membawanya melanglang buana dari daerah asalnya dipalembang sumatera kedaerah kalimantan,dalam salah satu riwayat nama Datu sanggul adalah Syekh Muhammad Abdush Shamad atau dlm riwayat lainnya mengatakan nama beliau adalah Ahmad Sirajul Huda,beliau hidup sekitar abad ke 18 m bertepatan dengan jaman nya Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau lebih dulu sedikit.

Datu Sanggul, begitu masyarakat lebih mengenalnya. Seorang tokoh panutan di zamannya, sekitar abad ke Masehi, satu zaman dengan Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ketulusan hatinya dalam melaksanakan ibadah, dan ketaqwaannya dalam menegakkan kalimat-kalimat Allah, serta keramat yang diberikan Allah kepadanya, membuat ia terkenal sampai ke pelosok negeri.

Satu hal yang amat tergambar dalam sosok Datu Sanggul, adalah ketekunannya dalam menuntut dan menyempurnakan ilmu. Yaitu berguru dengan Datu Suban. Di Desa Tatakan pula beliau kemudian dimakamkan yang sampai sekarang makamnya terus diziarahi masyarakat. Dalam salah satu riwayat diceritakan, Datu Sanggul disebutkan bernama asli Syekh Muhammad Abdussamad. Beliau berasal dari Palembang, kemudian melanglang buana ke berbagai penjuru untuk menuntut ilmu. Mengapa digelari Datu Sanggul? Ada juga yang mengatakan beliau sering menyanggul atau menghadang pasukan tentara Belanda di perbatasan Kampung Muning, sehingga tentara Belanda pun kocar-kacir dibuatnya.

Versi lainnya lagi menyebutkan, gelar Datu Sanggul itu karena kegemaran beliau menyanggul menunggu binatang buruan. Ada juga yang mengatakan rambut beliau yang panjang dan selalu disanggul digelung.

Wallahu a'alam. Berkat mengamalkan ilmu yang beliau peroleh baik dari guru beliau ataupun dari Kitab Barencong tadi banyaklah beliau mendapatkan kelebihan kelebihan dari Allah SWT,diantaranya beliau kalau sholat jum'ad selalu di Mesjid Al-Haram,dan karna itulah beliau bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang pada saat itu sedang menuntut ilmu di Mekah dan Syekh Muhammad Arsyad mengangkat saudara dengan beliau,selain itu beliau juga bertemu dengan Datu Daha yang juga mengangkatnya menjadi orang tua sekaligus guru insyaallah nanti diriwayat Datu Daha kita kisahkan.

Diceritakan sebelum Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad sampai kekampung muning untuk mengambil sambungan kitab barencong dari Datu Sanggul, Datu Sanggul meminta para muridnya untuk bertahan sejenak karena ada yang mau disampaikan,beliau meminta para muridnya dan masyarakat untuk bergotong ruyung mempersiapkan menyambut kedatangan tamu dari jauh Datu Kalampayan ,kemudian masyarakat bergotong ruyung mempersiapkan segalanya.

Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun Syekh Muhammad Arsyad menyerahkan kain putih 5 lembar yang dipesan oleh Datu Sanggul waktu mereka terakhir bertemu dulu, dan ternyata kain putih tsb akan dipakai untuk kain kapan beliau. Kemudian diberitahukan kepada murid murid beliau dan masyarakat,maka berdatanganlah orang orang untuk menolong dan melaksanakan fardu kifayah hingga selesai dan beliau dimakamkan di kampung muning benua nyiur tatakan Rantau,setelah selesai pemakaman Datu Sanggul kemudian Syekh Muhammad Arsyad menceritakan pertemuan beliau dengan istri Datu Sanggul dan menyampaikan pesan pesan beliau termasuk pesan untuk mengambil sambungan Kitab Barencong,istri Datu Sanggul memakluminya karena sebelum beliau meninggal sudah memberikan wasiat kepada istrinya untuk menyerahkan kitab tsb tapi terlebih dahulu beliau menyampaikan hal tersebut kepada murid murid Datu Sanggul, setelah itu baru kitab tsb di serahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad atau Datu Kalampayan.

Datu Sanggul sangat terkenal pula dengan syair-syairnya yang begitu puitis dan penuh makna. Syair tersebut berbahasa Banjar yang sarat dengan pelajaran tasawuf. Diantara petikan syair tersebut berbunyi:. Kemudian, ada lagi syair lain yang berbunyi:. Syair itu dilantunkan Datu Sanggul saat muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya tanpa basah sama sekali terkecuali pada anggota wudhu.

Beliau mempunyai banyak kelebihan. Selalu shalat Jum'at di Makkah, dan menjadi murid Nabi Khidhir. Kalau tidak melaksanakan kewajiban tersebut, akan didenda. Dalam kondisi itu, setelah didesak oleh istri beliau karena tidak ada lagi barang yang bisa dipakai untuk membayar denda, Datu Sanggul akhirnya berjanji untuk melaksanakan shalat Jum'at di masjid kampungnya.

Post navigation

Kala itu, sungai di kampungnya sedang meluap dan hampir terjadi banjir lantaran hujan yang sangat lebat pada malam harinya. Di saat para jamaah sedang berwudhu di pinggir sungai, tiba-tiba Datu Sanggul datang dan langsung terjun ke sungai yang sedang meluap tersebut.

Beliau bercebur lengkap dengan pakaiannya. Orang-orang berteriak dan menjadi gempar. Dan tiba-tiba lagi, di tengah kegemparan masyarakat itu, Datu Sanggul muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya, lalu langsung memasuki masjid. Lebih mengherankan, pakaian beliau tidak basah sama sekali, kecuali anggota wudhunya.

Di sana padang si tamu-tamu. Rindu dendam tengadah bulan.

Tak Banyak yang Tahu, Datu Sanggul Pernah Menyalurkan Ilmu Melalui Sastra

Bersamaan ucapan Allahu Akbar itu, tubuh beliau mengawang-awang hingga selesai orang mengerjakan shalat Jum'at.Semasa hidupnya, Datu Sanggul ke Tapin desa Muning Tatakan dalam rangka menuntut ilmu agama kepada Datu Suban, hal ini bukan berarti beliau belum memiliki ilmu agama, melainkan beliau sudah memiliki ilmu agama sudah cukup dan juga seorang Ulama. Dalam suatu mimpi ketika masih berada di Palembang didalam mimpinya bertemu dengan orang tua yang menasehati kalau anaknda Abdussamad mau mendapatkan ilmu sejati maka tuntutlah sekarang, dan orang itu berada didaerah Kalimantan Banjar tepatnya di kampung Muning pantai Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa, di sana ada seorang tua datu yang bernama Suban Datu Subanatas petunjuk didalam mimpi itu Abdussamad berangkat menuju Kalimantan, yang sebelumnya mendapatkan izin dari orang tua kandung hingga sampailah beliau mendapatkan daerah yang dicari yaitu kampung Muning Tatakan.

Setibanya di kampung Muning, beliau menemui Datu Suban dan menceritakan perihal akan mimpinya tersebut, dengan lapang dada seakan mengerti akan simbol rabbaniyahtul Ilm pada hallikwal waktu itu Datu Suban pun menerima dan mengerti akan maksud kedatangannya serta disambut serta sangat diharapkan oleh Datu Suban ibarat pepatah buku bertemu dengan ruas kemudian pasak bertemu dengan tiang.

Menurut catatan sejarah, aktifitas beliau sehari-hari yakni berburu rusa, katanya cara beliau berburu dengan cara menunggu ditempat yang sering dilalui oleh binatang buruan dan hasil dari berburunya didermakan ketetangga dan jiran sekitar rumah beliau. Menurut mereka yang sefaham aliran dengan beliau ialah dengan ketaatan, ketawadhuan serta tingkat peribadatannya sampai mencapai martabat Abudah dan Badal. Metode pelaksanaan syariat keagamaannya di nilai sangat kuat seperti sholat Tahajjud terutama dibulan suci Ramadhan beliau selalu mengikat perut dan menguatkan ibadahnya untuk menunggu malam Lailatul Qadar, menurut kepercayaan orang Banjar pada malam ganjil dimulai pada 20 akhir Ramadhan beliau selalu menyanggul Lailatul Qadar, sehingga atas dasar tersebut masyarakat setempat digelari dengan sebutan Datu Sanggul.

Sementara keunikannya dari pola interaksi symbolic Datuk Sanggul, melalui Kitab Barencongnya pada manaqibnya penuh syair serta puisi dan pantun. Diceritakan oleh juri kunci pemakaman Julak Antung, dimana masyarakat sekitar memanggilnya, menurutnya melalui yang tercatat dalam sejarah yakni manaqib Datu Sanggul dengan riwayat Kitab Barencong yang diberikan Datu Suban kepada Datu Sanggul secara silsilah merupakan berasal dari Datu Nuraya yang maqamnya berada dekat pertahanan Datu Dulung ketika melawan Belanda dan benteng tersebut adalah benteng Munggu Tayuh digelari dengan Datu Nuraya karena datu tersebut datang ke kampung Muning bertepatan dengan hari raya selepas Datu Suban melaksanakan sholat Ied.

Setelah berkenalan dan memperlihatkan sebuah kitab kepada Datu Suban tidak lama kemudian orang tersebut ambruk dan wafat pada hari raya itu juga. Mengenai riwayat Datu Nuraya tidak ada kejelasan dari mana beliau berasal dan apa tujuan beliau berada dikampung Muning Tatakan, namun menurut kabar yang berkembang di masyarakat ada yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari Hadramaut tetapi ada pula yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari pulau jawa, dengan gelar garandali, diceritakan garandali sebuah gelar yang luar biasa, namun ketawadhuan yang dimiliki Datu Nuraya membuat hidupnya lebih memilih merakyat, keutamaan garandali tak lain adalah seorang ulama yang selalu merakyat, halikwal dan keinginannya sudah bulat di tujukan hanya satu yakni kepada Allah SWT, sehingga setiap ibadah maupun di dalam memanfaatkan ilmunya,selalu merasa tak berdaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah SWT, setiap kebaikan yang di anggapnya selalu hanya hadiah dari Allah.

SWT, dengan seperti itu,menjadikan hati bahkan seluruh batang tubuhnya hanya sebagai persinggahan Allah. SWT saja dan ini tingkat ikhlash yang tertinggi ungkapnya. Datu Nuraya, seorang figur garandali yang menempuh jalan gurur, jalan gurur yang selalu di kilati akan hal dan menurut kabar jalan ini tak mudah, dan konon beliau ini, dengan kain kebesarannya atau tapih dapat mengatur alam, yang tentunya atas izin Allah.

SWT, seperti menurunkan hujan, mengatur petir, dan awan serta angin yang bertiup, sehingga setiap beliau berjalan di terik matahari awan selalu menaunginya, Sementara itu juga ada kabar yang menyebutkan bahwasanya beliau bernama Syekh Gede Jangkung, hal ini dilihat dari ukuran makam beliau yang panjangnya 63 meter.

Kitab yang diberikan Datu Nuraya kepada Datu Suban berisi tuntunan hidup pada kehidupan lahir dan bathin untuk kehidupan didunia maupun dikehidupan akhirat serta rahasia alam dan rahasia rubbubiyah, serta menyangkut Rabbaniyatul Ilm dan Rabbaniyatul hukum.

Kembali ke Datu Sanggul bertemu dan menjalin persaudaraan dengan Datu Kelampaian, di ceritakan oleh masyarakat setempat, akan hallikhwal Datu Kelampaian Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mengaji ke mekkah, beliau sudah melakukan ikatan lahir bathin dengan Datu Sanggul, yakni beangkatan dangsanak jika orang banjar mengartikan.

Ikatan saudara ini lebih di perluas dengan saling memberikan pengetahuan satu sama lainnya, dimana keingintahuan Datu Kelampaian pada isi kitab Datu Sanggul terpenuhi, sementara pesan Datu sanggul kepada datu kelampaian yaknikalau adinda bulik ke banua yang sarincung kitab ini kaina ambil di Kampung Muning Tatakan dengan syarat harus membawa kain putih, sebab bila kitab ini bersatu lagi salah satu diantara kita akan kembali kepada Allah.

Ketika Datu Kelampaian pulang ke kampung halaman di Martapura setelah 30 tahun mengaji di Mekkah dan sempat mengajar di Masjidil Haram Mekkah pada bulan Ramadhan H atau bulan Desember M, usai Datu Kelampaian berkumpul dengan keluarga maka beliau teringat dengan Datu Sanggul sebagai saudara yang ada di kampung muning Tatakan dengan berencana akan melakukan silahturhami. Sesampainya di kampung Muning beliau sampai pada gubuk yang sederhana apakah benar suadara Datu Sanggul telah pulang kerahmatullah, dan konon meninggalnya Datu Sanggul ditandai dengan hujan lebat selama tiga hari tiga malam berturut-turut,yang menandakan bahwa langit dan bumi merasa bersedih atas kepergiannya.

Maret 24, - Posted by purnamatravel Wisata Religius datu sanggulkalimantanreligiustapinTourTravelWisataziarah. You are commenting using your WordPress. You are commenting using your Google account. You are commenting using your Twitter account. You are commenting using your Facebook account. Beri tahu saya komentar baru melalui email. Beritahu saya pos-pos baru lewat surat elektronik.

Beranda Tentang kami. Beri peringkat:. Share this: Twitter Facebook. Menyukai ini: Suka Memuat Tinggalkan Balasan Batalkan balasan Ketikkan komentar di sini Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:.

E-mail wajib Alamat takkan pernah dipublikasikan.Post a Comment. December 17, Suku Banjar.

Sholat Tidak Wajib Bagi Yang Bermakrifat

Alkisah, di Palembang hiduplah seorang pemuda bersama orang tuanya. Pemuda ini sangat rajin dalam menuntut ilmu agama. Meskipun dua puluh tahun lebih belajar ilmu agama, namun pemuda tersebut masih belum merasa cukup. Suatu hari, sehabis shalat dhuhur, pemuda itu tidur. Dalam tidurnya, pemuda tersebut bermimpi bertemu dengan seorang lelaki tua. Dalam mimpinya, orang tua itu mengatakan jika ingin belajar ilmu sempurna belajarlah kepada Datu Suban di Muning, Kalimantan Selatan.

Atas izin orang tuanya, pemuda itu berlayar ke Kalimantan untuk mencari Datu Suban. Setelah sampai di Muning, pemuda tersebut bertemu dengan Datu Ganun. Oleh karena itu, dia diantar kepada Datu Suban. Datu Suban mau saja mengajarkan ilmunya kepada pemuda itu asal dia mampu menyiapkan sepotong kain putih, selembar tikar, sebuah kelambu baru, dan satu bantal baru. Ternyata, semua persyaratan dapat dipenuhinya. Akhirnya, pemuda itu berguru kepada Datu Suban.

Kisah Datu Sanggul

Pemuda itu sangat tekun belajar. Setelah empat puluh Jumat, pelajarannya dapat ditamatkan. Akhirnya, dia menjadi wali dengan nama Datu Sanggul. Legenda Datu Sanggul mengisahkan seseorang yang sangat tekun menuntut ilmu agama. Sekalipun sudah dua puluh tahun menuntut ilmu agama, dia belum merasa cukup ilmunya sebagai bekal di akhirat. Oleh karena itu, dia datang ke Kalimantan. Tema yaang dikandung dalam Legenda Datuk Sanggul ini menuntut ilmu wajib sepanjang masa.

Kita tidak boleh puas dengan ilmu yang telah kita miliki sehingga menuntut ilmu harus dilakukan sepanjang masa.